KATOE.ID— Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyoroti peran penting perempuan dalam kepemimpinan aksi kemanusiaan di berbagai negara Amerika Latin melalui kisah inspiratif empat perempuan tangguh: Gloria Morón, Suany Soriano, Yanci López, dan Paula Taja.
Mereka bukan hanya pekerja kemanusiaan, tetapi juga simbol perubahan yang menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan dapat membawa perspektif baru dalam menghadapi situasi darurat.
Program Regional on Gender Equality and Leadership in Emergency Operations in the Americas, yang dijalankan sejak 2019 oleh IFRC dengan dukungan teknis dan finansial dari Spanish Agency for International Development Cooperation (AECID) dan Canadian Red Cross, telah membuka jalan bagi perempuan untuk berperan aktif dalam operasi darurat internasional.
“Dulu sulit bagi perempuan untuk melamar penugasan internasional. Sekarang kami punya mentor, pelatihan, dan sistem dukungan yang nyata,” kata Paula Taja, Wakil Manajer Operasi IFRC di Peru.
Program ini juga memperkenalkan Caregiver Support Fund, yang memungkinkan perempuan seperti Yanci López tetap bisa menjalankan tanggung jawab keluarga saat bertugas di lapangan.
“Dukungan itu nyata. Memiliki jaringan yang mendukung kami adalah hal penting agar perempuan bisa berkiprah penuh,” ujarnya.
Selain memperkuat kapasitas individu, program IFRC juga mendorong perubahan sistemik dengan melibatkan laki-laki sebagai sekutu perubahan.
Steve McAndrew, Kepala IFRC Cluster Negara-Negara Andes, mengatakan bahwa lebih dari 50 persen peserta baru dalam operasi darurat kini adalah perempuan berkat reformasi sistem rekrutmen.
“Perubahan nyata terjadi ketika sistem mendukung talenta tanpa memandang gender,” tegasnya.
Sementara Raziel Uranga, Koordinator Keamanan IFRC di Ekuador, menambahkan bahwa perempuan sering kali lebih cepat membangun hubungan dengan komunitas terdampak — sebuah keunggulan penting dalam operasi kemanusiaan.
Kepemimpinan perempuan yang ditampilkan IFRC bukan hanya simbol, tetapi juga strategi efektif yang menggabungkan empati, ketegasan, dan kemampuan adaptasi dalam menghadapi krisis.
“Ketika seorang perempuan memimpin, dia tidak berjalan sendiri. Dia membawa jaringan orang-orang yang percaya pada kemampuannya dan sistem yang mendukung kesetaraan,” tulis IFRC dalam pernyataannya.
(**)













