KATOE.ID– Di lanskap kering dan panas Desa Mtakuja, bertani bukan perkara mudah. Tanah yang tandus, hujan yang jarang, serta suhu yang ekstrem sudah lama jadi tantangan. Namun, di balik semua itu, semangat ketahanan justru tumbuh subur.
Salah satu sosoknya adalah Margaret, seorang ibu dan petani dari Mtakuja. Dulu, hidupnya dipenuhi rasa cemas. Untuk membeli makanan, ia kerap harus berutang, sementara hasil panennya sering gagal.
Titik Balik dari Program Ketahanan Pangan
Perubahan terjadi saat Margaret dan kelompok perempuan “Friends Women Group” mendapat dukungan dari Program Ketahanan Pangan Terpadu yang dijalankan oleh Palang Merah Kenya.
Program ini melibatkan lebih dari 1.000 petani dengan berbagai pelatihan dan bantuan, mulai dari beternak kambing gala, unggas, lebah madu, hingga menanam hortikultura, bunga matahari, dan sayuran.
Bagi kelompok Margaret, masing-masing dari delapan anggotanya mendapat seekor kambing betina, sementara kelompok mendapat satu kambing jantan untuk dikembangbiakkan. Dari sinilah harapan baru lahir.
“Bergabung dengan kelompok ini membuat saya merasa punya tempat untuk saling mendukung,” kata Margaret. “Kami bisa bertukar pikiran dan saling menyemangati meski banyak tantangan.”
Hasilnya, Margaret kini punya delapan ekor kambing sehat. Susu kambing segar jadi asupan keluarga, sementara sebagian ia jual untuk membeli kebutuhan harian seperti gula dan sabun.
Dari Krisis ke Tabungan Cerdas
Program ini juga terhubung dengan kampanye Africa Zero Hunger yang diinisiasi Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC). Kampanye ini mendorong solusi jangka panjang berbasis komunitas untuk mengatasi akar persoalan krisis pangan di Afrika.
Selain beternak, Margaret bergabung dengan Village Savings and Loan Association (VSLA), semacam koperasi simpan pinjam berbasis desa. Dari sini ia belajar menabung, meminjam modal kecil, dan mengelola usaha. Dengan penghasilannya, ia mulai menanam kale (sayur hijau) di halaman rumah menggunakan teknik hemat air yang diajarkan program.
“Dengan bibit unggul dan pelatihan yang saya dapat, hasil panen jadi lebih baik,” ujarnya. “Harapan saya ke depan, bisa terus memperbanyak kambing yang saya pelihara.”
Bangkit dari Setiap Tantangan
Awal tahun ini, kawanan gajah merusak seluruh kebun kale Margaret hanya dalam semalam. Meski terpukul, ia tak menyerah. Dengan semangat baru, ia menanam ulang. Kini kebunnya kembali hijau, sementara suara kambing terdengar setiap hari di halaman rumahnya.
Semangat perubahan ini menyebar ke seluruh Mtakuja. Melalui kelompok VSLA dan kerja sama sesama perempuan, semakin banyak keluarga yang bisa menabung, berinvestasi, dan membangun masa depan lebih baik.
Saat ini, sekitar 1.500 petani sudah terlibat dalam program, termasuk 350 petani kambing. Peternak unggas dilatih menggunakan inkubator tenaga surya untuk meningkatkan produksi telur, sementara petani bunga matahari tengah menunggu beroperasinya pabrik pengolahan minyak bunga matahari untuk menambah nilai jual panen mereka.
Kini Margaret tidak lagi dihantui ketidakpastian pangan. Anak-anaknya yang sudah dewasa ikut membantunya mengurus kambing dan kebun. Dari sekadar bertahan hidup, pertanian kini jadi kekuatan keluarga dan simbol ketangguhan komunitas. **













